إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Senin, 21 Januari 2013

Jauh Dihati...

Assalamu'alaikum...
Sahabat-sahabati ini sebenernya sih bukan asli tulisan saya sendiri alias kopas (yah kecewa). Tapi beneran deh bagus buat jadi renungan dan bahan perbaikan diri. Oiya..sumbernya saya dapat dari FP Mutiara Air Mata Muslimah on Facebook. Dan inilah ceritanya :)


Suatu saat sang guru bertanya kepada murid-muridnya
“mengapa ketika seorang sedang dalam keadaan marah ia akan berbicara dengan suara keras atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangannya dan menjawab
“karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak”

“tapi..” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada di depannya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak bisa berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban memuaskan.

Sang guru lalu berkata, “ketika dua orang sedang dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu untuk mencapai jarak yang demikian mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada diantara keduanya menjadi semakin jauh pula. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi”

Sang guru melanjutkan. “sebaliknya, apa yang terjadi ketika dau orang saling mencintai? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yg keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?”

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir keras, namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru melanjutkan, “ketika kalian sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi janganlah kalian mengucapkan kata-kata yang mendatangkan jarak diantaramu. Mungkin disaat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu pula yang akan membantumu.”


Jadi begitulah sahabat sahabati sekalian. Sebisa mungkin kendalikan diri dari amarah. Jangan malah diri kita dikendalikan oleh amarah. Susah ya emang kalo kalo hanya dibicarakan tanpa ada prakteknya. Karena dalam kehidupan nyata, saya juga masih sering tak bisa mengontrol amarah.
Kesempurnaan hanya milik Allah, kesalahan dan kekhilafan adalah milik kita. Sekian terimakasih. Semoga bermanfaat :)

0 komentar:

Posting Komentar